Pages

Minggu, 23 Oktober 2016

School To Best Proses


Sebuah Riset dari Tom J. Perkins di Jawa Timur dan Jawa Barat )

Indikator sebuah sekolah dapat dilihat dari tiga komponen, yaitu INPUT, PROSES, dan OUTPUT.
Pada komponen INPUT, adalah dititikberatkan pada bagaimana sekolah tersebut menerima siswa baru. Ada dua konsep yang berbeda dalam cara sekolah menerima siswa barunya, yaitu:
Sekolah dengan konsep ”BEST INPUT”
Sekolah yang menganut konsep ”BEST INPUT”, yaitu bahwa siswa-siswa unggul yang diharapkan masuk dan mendaftar di sekolah tersebut dengan cara harus melewati beberapa tes formal dan kognitif. Sekolah tersebut meyakini bahwa keunggulan sekolahnya berdasarkan keunggulan akademik siswa-siswa baru yang lulus tes masuk. Artinya sekolah unggul adalah sekolah yang inputnya unggul. 
Ciri-ciri sekolah yang menganut konsep ”BEST INPUT” adalah sebagai berikut:
  • Menerapkan tes masuk kepada siswa-siswa yang akan mendaftar ke sekolah tersebut. Tes masuk ini bahkan menilai kemampuan akademik siswa dan moral siswa. Diharapkan siswa yang diterima adalah siswa-siswa yang mempunyai nilai akademik positif (baca: pandai) dan moral positif (baca: baik, tidak nakal).
  • Apabila jumlah siswa yang mendaftar melebihi jumlah kapasitas sekolah, maka siswa yang berhasil diterima adalah hasil sortir dari nilai tes masuk yang tertinggi sampai sebatas jumlah kapasitas yang tersedia. Sedangkan siswa-siswa yang nilainya tidak masuk atau lebih dari kapasitas sekolah tersebut maka dianggap tidak berhasil diterima di sekolah tersebut.
  • Biasanya sekolah tersebut tidak lagi menganggap perlu tahap proses pembelajaran. Terutama para guru sudah merasa cukup mengajar biasa-biasa saja sebab kebanyakan siswanya pandai-pandai.
  • Biasanya sekolah tersebut mempunyai guru-guru yang cara mengajarnya konservatif dan tidak kreatif.
  • Keberhasilan sekolah tersebut pada output lebih disebabkan keunggulan dan minat siswa dan keluarganya untuk dapat berhasil lulus. Sedangkan peranan guru dalam keberhasilan siswanya relatif kecil.
Kritik untuk sekolah ”BEST INPUT”:
  • Menurut Tom J. Parkins, hampir 99% sekolah di Indonesia dalam model penerimaan siswa barunya menganut ”BEST INPUT”. Hal ini berlaku juga pada sekolah yang dikatakan unggul atau favorit. Hanya beberapa sekolah unggul saja di Indonesia yang sudah meninggalkan konsep ini.
  • Sekolah ”BEST INPUT” mengkerdilkan fungsi sekolah sebenarnya. Menurut Tom, sekolah pada hakekatnya adalah wadah untuk untuk mengubah siswa-siswa yang belajar di dalamnya untuk dapat berhasil. Jadi sekolah dan guru adalah sebagai ”agen perubah” siswa-siswanya. Sekolah dan guru harus mampu mengubah siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik dan moral negatif menjadi siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik dan moral positif. Jadi dapat dikatakan naif sekali apabila sekolah malah tidak menginginkan siswa-siswa yang mempunyai kelemahan yang daftar dan masuk ke sekolah tersebut. Sekolah seperti itu berarti sekolah yang tidak melakukan fungsinya sebagai ”agen perubah”.
  • Kualitas Tes Masuk pada sekolah BEST INPUT juga perlu dievaluasi. Artinya sangat tidak manusiawi. Menilai kemampuan siswa dengan besarnya angka-angka kognitif pada kualitas pengetahuan yang rendah sangat tidak adil. Penulis pernah menginterview seorang kepala sekolah sebuah SD di Surabaya tentang tes masuk penerimaan siswa baru. Kepala sekolah tersebut mengatakan bahwa di sekolahnya siswa yang dapat diterima di sekolahnya adalah yang mempunyai nilai 75 ke atas. Sedangkan nilai 74 ke bawah tidak diterima. Ketika penulis menanyakan kepada kepala sekolah tersebut tentang sebenarnya apa bedanya nilai 75 dan 74, hanya terpaut 1 digit saja, namun punya dampak yang berbeda. Seseorang tidak dapat masuk sekolah yang diinginkannya hanya karena kurang 1 digit. Tentu saja kepala sekolah tersebut tidak mampu menjawabnya.
  • Kualitas guru pada sekolah yang menganut konsep ini, biasanya juga rendah atau biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa pada mutu guru. Bahkan menurut penelitian penulis pada sekolah yang favorit di Surabaya, beberapa guru bahkan dianggap ”gagap teknologi” (baca: gaptek) oleh siswa-siswanya dalam hal teknologi internet. Guru merasa tidak harus berusaha sekuat mungkin untuk mengubah siswanya menjadi pandai dan mengerti banyak ilmu pengetahuan, sebab kebanyakan siswanya sudah pandai. Apalagi biasanya siswa sudah kursus banyak bidang studi di luar sekolah. Sekolah dengan konsep ”BEST PROCESS”
Sekolah yang menganut konsep bahwa sekolah unggul tidak menitikberatkan pada kualitas akademik siswa-siswa baru yang masuk ke sekolah tersebut. Sekolah model ini dengan suka cita menerima semua siswa dalam kondisi apapun.
Ciri-ciri sekolah yang menganut ”BEST PROCESS” ini adalah sebagai berikut:
  • Sekolah ini tidak menerapkan tes masuk pada siswa barunya. Biasanya sekolah ini menggunakan sebuah perangkat riset untuk mengetahuai kondisi kemampuan siswa yang masuk ke sekolah tersebut. Perangkat ini dikenal dengan Multiple Intelligence Research (MIR) yang mampu mengetahui banyak dimensi kondisi kemampuan dan kekurangan siswa terutama tentang bagaimana gaya belajar siswa.
  • Sekolah dan guru pada sekolah ini akan mendapatkan sebuah kenyataan tentang kemampuan akademik dan moral siswa-siswa barunya sangat beragam. Sehingga hal ini merupakan tantangan bagi guru untuk mengubah menjadi ke arah positif. Akhirnya guru-guru di sekolah ini dituntut menjadi ”agen perubah” . Mengubah kondisi akademik dan moral siswa yang negatif menjadi positif.
  • Menurut Tom J. Parkins, inilah sekolah yang sebenarnya, sekolah yang menerima segala kondisi siswanya. Kemudian kondisi itu dipelajari dan diteliti, lalu dengan data tersebut, para guru mencoba mengembangkan kemampuan siswa-siswanya dengan cara yang berbeda-beda. Sekolah unggul adalah sekolah yang menitik beratkan pada kualitas proses pembelajaran, dan ini ada pada pundak guru, bukan pada kualitas input siswanya.
  • Guru-guru pada sekolah ini biasanya kreatif, sebab meyakini bahwa gaya mengajar guru tersebut harus disesuaikan dengan gaya belajar siswanya. Tuntutan mengajar dengan pola demikian hanya dapat dilakukan oleh guru-guru yang handal, punya dedikasi dan kompetensi mengajar yang baik. Dengan demikian sekolah yang menerapkan konsep ini, biasanya jadwal pelatihan guru sangat padat. Guru benar-benar diharapkan profesional dan menjadi agen perubah.
Hasil penelitian Tom J. Perkins terhadap sekolah-sekolah di Indonesia adalah sebagai berikut:
Keterangan
Jumlah % sekolah
Kategori
INPUT


a. Best Input
99%
Sekolah biasa
b. Best Process
1%
Sekolah unggul



PROSES


a. Left Brain
99%
Sekolah biasa
b. Holistic Brain
1%
Sekolah unggul



OUTPUT


a. Cognitive Only
99%
Sekolah biasa
b. Cognitive (knowledge),
Affective (attitude),
Psychomotor (skills)
1%
Sekolah unggul

Riset ini dilakukan pada tahun 2003 dengan meneliti sebanyak 85 sekolah unggul di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah:
  • Masih sedikitnya (baca: 1%) sekolah di Indonesia yang dikategorikan sekolah unggul, baik pada komponen input, proses, dan output.
  • Paradigma sekolah unggul di Indonesia masih banyak yang harus dikoreksi dan ditata lagi, terutama pada input penerimaan siswa baru.

Minggu, 16 Oktober 2016

MENUJU SEKOLAH UNGGULAN DI SEKOLAH UNGGULAN

 Motto :

  1. Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil; kita baru yakin kalau kita telah berhasil melakukanya  dengan baik (Evely Underhill).
  2. Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi (Ernest Newman).
  3. Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tetapi kita selalu menyesali apa yang belum kita capai (Scopenhauer).
  4. Hanya mereka yang setelah mendapat kesempatan mau bekerja keras, melipatgandakan kemampuannya, mempertebal rasa tanggung jawabnya, dan menambah kecakapannya bisa memperoleh kemajuan.


  1. Pendidikan dan Kurikulum yang Berdiferensiasi
Untuk melayani kebutuhan anak berbakat perlu diusahakan pendidikan yang berdiferensiasi yaitu yang memberikan pengalaman pendidikan dengan disesuaikan minat, bakat dan kemampuan intelektual siswa (Word dalam Munandar,1990:141). Keberbakatan tidak akan muncul apabila kegiatan pembelajaran terlalu mudah dan tidak mengandung tantangan bagi anak berbakat sehingga kemampuan mereka yang unggul tidak akan tampil.
Anak-anak berbakat membutuhkan perhatian khusus agar dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi untuk mewujudkan bakat-bakatnya yang unggul. Menurut Semiawan dalam Akbar (2001:3) istilah “diferensiasi” dalam pengertian kurikulum berdiferensiasi menunjuk pada kurikulum yang tidak berlaku umum, melainkan dirancang khusus untuk kebutuhan tumbuh kembang bakat tertentu. Sejalan dengan itu Nugroho (1999:2) menjelaskan bahwa kurikulum berdiferensiasi adalah sebuah kurikulum yang dirancang secara khusus untuk melayani anak-anak berbakat unggul dengan program pendidikan yang dipercepat, diperluas dan diperdalam yang memberi keleluasaan gerak pada anak berbakat unggul untuk belajar sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan masing-masing.
Pengembangan kurikulum berdiferensiasi terutama menunjuk suatu kebutuhan berkenaan dengan tumbuh kembangnya kreativitas seseorang. Berbeda dengan kurikulum reguler yang berlaku bagi semua siswa, kurikulum berdiferensiasi bertujuan untuk menampung pendidikan berbagai kelompok belajar, termasuk kelompok siswa berbakat. Melalui program khusus, siswa berbakat akan memperoleh pengayaan (enrichment) dari materi pelajaran, proses belajar, dan produk belajar. Isi pelajaran yang menunjuk pada konsep dan proses kognitif tingkat tinggi, strategi tingkat instruksional yang akomodatif dengan gaya belajar anak berbakat, dan rencana yang memfasilitasi kinerja siswa.
Untuk menerapkan kurikulum yang tepat bagi anak berbakat, harus memperhatikan penerjemahan prinsip-prinsip teori kedalam praktek secara holistik sedemikian rupa sehingga pendidikan anak berbakat menjadi lengkap. Hal ini dapat diwujudkan apabila kita memfokuskan pada elemen-elemen sebagai berikut:

  1. Anak berbakat dengan cara yang berbeda dengan kelompok lain dan memang penting untuk ditampung dan dikembangkan. Lagi pula, perbedaan dalam rerata dapat menjadi besar dalam perbedaan jenis bukan hanya derajat dari pengajaran
  2. Anak berbakat sangat membutuhkan kedalaman bidang pelajaran, pendidik harus mengarahkan kebutuhan melalui pengayaan yang cenderung menjadi suatu tambahan yang superfisial dalam kurikulum.

Kurikulum berdiferensiasi dirancang untuk memenuhi keberbakatan setiap anak yang unggul. Kurikulum berdiferensiasi ini memiliki karakteristik yang unik.
Berbeda dengan kurikulum inti, kurikulum berdiferensiasi ini dikembangkan atas dasar dan prinsip-prinsip berikut ini, dan rasanya sangat tepat ketika kurikulum ini dapat diterapkan pada kelas unggulan. Adapun dasar prinsip-prinsipnya adalah sebagai berikut:

  1. Menurut “Pull Out Enrichment” yakni penarikan anak pada program pengayaan. Hal ini didasarkan adanya masa peka dimana setiap individu harus diisi dengan muatan paedagogis dan psikologis tepat waktu agar dapat berkembang secara optimal, dan nantinya dapat melanjutkan perjalanan pendidikan dengan baik.
  2. Mengarap pada tercapainya “Raise Level of Dinamycs” dalam perkembangan individu. Artinya dengan kurikulum berdiferensiasi sifat penanjakan yang dinamis dalam perkembangan setiap individu dapat terpenuhi dengan pengalaman belajar, terencana, lebih luas dan lebih mendalam.
  3. Mengacu pada terwujudnya “Equel Opportunity” yaitu kesempatan belajar yang sama berdasarkan minat, bakat, kecepatan dan kemampuan individu. Jadi kesamaan kesempatan bukan sekedar kesamaan materi atau sistem pendidikan. Hal ini juga menolak mitos bahwa anak-anak berbakat unggul akan dapat berkembang dan sukses dengan sendirinya tanpa pelayanan yang baik.
  4. Memadukan secara harmonis dan akademis antara pendidikan di sekolah dengan kebutuhan yang berkembang dimasyarakat. Dalam hal ini diterapkan “Society Based Learning “ sehingga kesenjangan antara sekolah dengan tuntutan nyata dimasyarakat dapat dieliminir. Disamping memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap individual differentes, kurikulum diferensiasi juga mampu mengorganisir pengalaman belajar yang solid sehingga siswa dapat mencapai “Discovery Thrill” yang memungkinkan siswa menghayati “Eurikel atau Aba Erlebniz” secara mendalam. Oleh karena kegiatan dirancang agar terjadi sinergi “ Concept learning” dengan “Proset Learning” sehingga disamping mendapatkan content, anak juga mampu mendapatkan “Learn How to Learn”
  5. Sasaran utama kurikulum berdiferensiasi adalah terjadinya interpretasi dari ranah kognitif, psikomotorik dan interaktif. Dalam hal ini jelas bahwa kurikulum berdiferensiasi tiga tingkat lebih maju dibanding kurikulum inti di sekolah.
Kurikulum yang berkembang selama ini hanya berorientasi pada pengembangan kognitif, afektif dan psikomotorik. Dan pada kenyataannya ranah kognitif lebih mendominasi. Sedangkan ranah interaktif dalam kurikulum berdiferensiaasi berisi tahap kreatif, psikodelik dan iluminatif yang besar peranannya pada produk-produk baru. Untuk melayani anak-anak berbakat unggul pada kelas khusus atau kelas unggulan keberadaanya sangat dibutuhkan sekali.
Untuk mengembangkan program keberbakatan, pada umumnya dibedakan dari program reguler. Hal tersebut diambil atas dasar pertimbangan:
(1) prinsip ekonomi,(2) konsentrasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi,(3) konsentrasi pada keterkaitan antara kebutuhan pengetahuan,(4) membuka sekolah non tradisional,(5) belajar mandiri untuk anak berbakat, dan (6) komitmen terhadap belajar masa depan.
Kurikulum berdiferensiasi mempunyai komponen-komponen yang saling terkait. Komponen tersebut adalah:

  • materi pengalaman belajar yang menumbuhkan kreativitas harus dipilih untuk digemukan dan dipadatkan dengan menambahkan bagian-bagian baru yang menarik, mengubah bagian-bagian yang kurang sesuai, mengurangi kegiatan yang terlalu rutin dan mengulang.
  • terjadi penanjakan dinamis mental dan tindakan kreatif.
  • berorientasi pada proses, kegiatan aktif dan penerapan tugas, serta memberi peluang pada siswa untuk memilih sendiri kegiatan belajar sesuai dengan minat dan kemampuanya.
  • komponen yang bersifat teknis, seperti fasilitas, komposisi guru, pendekatan proses belajar mengajar, dan penggunaan metode mengajar yang bervariasi. Ada dua argumen mengapa kurikulum berdiferensiasi dibutuhkan dalam melayani kebutuhan anak berbakat.
Pertama, pendidikan anak berbakat intelektual berbeda dengan anak lainnya. Sebaiknya ditekankan aktifitas intelektual. 
Kedua, pembelajaran anak berbakat unggul harus diwarnai kecepatan dan tingkat kompleksitas yang lebih sesuai dengan kemampuan yang lebih tinggi dari anak biasa. Kedua hal tersebut diatas tidak dapat dijangkau dengan kurikulum biasa. Kurikulum berdiferensiasi bagi anak berbakat unggul mengacu pada pendidikan mental melalui berbagai program yang akan menumbuhkan kreatifitasnya serta mencakup berbagai pengalaman belajar intelektual pada tingkat tinggi.
Kebutuhan terhadap perencanaan pengalaman belajar melalui kurikulum berdiferensiasi adalah “ Conditio sin qua non” dalam memberikan pengalaman pendidikan bagi anak berbakat unggul.
Penggunaan kurikulum berdiferensiasi untuk melayani kebutuhan pendidikan anak-anak berbakat unggul pada kelas unggulan dalam suasana klasikal memiliki suatu keistimewaan tersendiri. Sesuai dengan pendapat Barbara clark setidaknya dapat dijelaskan tiga keberhasilan utama berdiferensiasi yaitu:

  1. Dengan pengalaman klasikal yang mengacu pada kurikulum berdiferensiasi maka kebutuhan rangsang psikis anak unggul dapat terpenuhi tanpa mengganggu irama dan tempo belajar anak-anak umum sebab salah satu bentuk karakteristik anak unggul adalah minatnya yang luas terhadap berbagai bidang kehidupan. Jadi jika ia hanya dilayani dengan kurikulum inti maka kebutuhan-kebutuhan perluasan keberbagai bidang kehidupan yang diminati tak dapat terpenuhi.
  2. Anak berbakat unggul punya karakteristik tersendiri dalam hal kematangan emosi.
  3. Masyarakat luas memandang anak berbakat unggul itu eksentrik, tempramental, usil, keras kepala, hiper aktif, kritis dan berbagai stigma lainya yang pada intinya menunjuk pada karakter emosi anak unggul. Dengan menempatkan mereka pada kelas reguler atau kelas biasa yang tergabung dengan siswa yang terdiri dari berbagai latar belakang dan variasi, maka anak unggul punya kesempatan untuk bergaul yang sewajarnya namun kadang seenaknya saja. Hal ini akan sangat berbeda jika mereka diperlakukan dikelas khusus dengan menerapkan kurikulum berdiferensiasi. Mereka sebagai siswa kelas unggulan akan terkesan elitis serta teman-teman bergaulnya sama kemampuanya meskipun tidak sama latar belakang sosial,ekonomi, minat, bakat dan kemauannya.
  4. Anak unggul memiliki persoalan khusus untuk usaha mencapai kematangan sosial. Oleh karena itu semakin mereka diisolasi dan elitis akan semakin tidak menguntungkan perkembangan kematangan sosialnya. Dengan pelayanan kurikulum berdiferensiasi dikelas unggulan anak-anak tersebut kebutuhanya akan tercukupi dan beban studinya sesuai dengan kepastian keunggulan yang mereka miliki. Tidak sederhana mengelola proses pembelajaran dengan menggunakan kurikulum berdiferensiasi.
Ada empat matra (dimensi) yang harus dikuasai guru kelas unggulan jika ingin sukses dalam menggunakan kurikulum berdiferensiasi. Keempat matra itu adalah:
Matra (Dimensi) umum, matra umum ini merupakan kumpulan kegiatan belajar dasar untuk pengembangan lebih lanjut dan memenuhi kebutuhan anak secara umum, sehingga kurikulum berdiferensiasi ini sebenarnya bertitik tolak pada kurikulum umum yang berlaku bagi semua siswa. Pengalaman belajar dari kurikulum ini memberikan keterampilan dasar, pengetahuan , pemahaman, nilai dan sikap yang akan memungkinkan seseorang berfungsi sesuai dengan tuntutan masyarakat. Kurikulum ini bertumpu pada kurikulum inti atau kurikulum umum.
Matra yang didiferensiasi, matra ini berkaitan dengan ciri khas perkembangan anak berbakat dan merupakan kurikulum yang dikembangkan secara mendalam. Sifatnya terutama memenuhi harapan, kepentingan, tuntutan kebutuhan peserta didik unggul, terutama berkaitan dengan kehidupan kreatifnya. Matra ini menunjuk pada pendeferensiasian subyek materi pada tingkat perkembangan kognitif anak berbakat unggul. Pada bagian inilah anak-anak berbakat akan ditarik keluar dari kelasnya untuk mendapatkan penggemukan dan pengayaan sesuai kebutuhanya. Dengan demikian diharapkan mereka mampu berpikir kreatif dan bisosiatif.
Matra subliminal, matra ini terdiri dari pengalaman belajar yang dijabarkan dari lingkungan keluarga dan sekolah. Di sekolah berkenaan dengan iklim akademis, relasi interpersonal antar sesama, sistem penghargaan dan hukuman. Matra ini memberi layanan kebutuhan interaksi interpersonal dengan sesamanya sehingga iklim akademis yang tercipta sangat menyenangkan. Mereka tidak hanya belajar subyek materi melainkan juga belajar tentang bagaimana cara belajar.
Matra non akademis, yakni suatu pengalaman belajar diluar target kurikulum yang ditetapkan. Mereka dapat mempelajari apa saja yang menyenangkan dan sekaligus bermanfaat bagi perkembangan dirinya. Disini konsep society based of learning menemukan wujudnya, perkembangan afektif dan interaktif semakin nyata.
Disamping menguasai empat matra diatas dalam implikasinya guru harus selalu ingat akan faktor-faktor isi, keterampilan mental, penerapan berpikir produktif dan pengembangan sikap. Isi kurikulum untuk anak berbakat unggul harus memusatkan dan mengkoordinasikan ide, masalah serta tema yang komplek dan mendalam sehingga memacu anak untuk sanggup berpikir cross sectional. Isi harus menggairahkan dan menantang proses kreatif dan kritis siswa untuk terus bergulat dalam aktivitas berpikir yang produktif. Kurikulum anak berbakat juga harus mampu memberi kesempatan anak dalam melatih keterampilan mental intelektual. Pengorganisasian ide, konsep dan teori menjadi suatu bentuk bangunan pengetahuan baru yang bermakna dalam menghadapi masa kini dan masa datang adalah latihan mental yang harus diajarkan dalam kurikulum berdiferensiasi. Penerapan berpikir produktif juga merupakan ciri khas kurikulum berdiferensiasi. Disini anak tidak hanya dibiasakan berpikir kreatif saja melainkan proaktif dan mencoba merekonseptualisasikan teori dan paradigma berpikir untuk mencermati dan mencari solusi kreatif atas persoalan-persoalan aktual disekelilingnya. Disamping itu pengembangan sikap juga merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam pengajaran anak berbakat diformat kelas reguler. Pengembangan sikap yang utama fleksibilitas adalah perbedaan pendapat, keterbukaan tehadap rangsang baru, dan kesanggupan untuk mencari teknik-teknik kreatif.

2. Pembelajaran Unggul
Pembelajaran unggul adalah proses pembelajaran yang membuat anak-anak senang, betah dan nikmat belajar. Proses pembelajaran unggul adalah proses yang dapat memunculkan kegiatan belajar mengajar yang menggairahkan dan bukan menyiksa anak-anak. Pembelajaran disebut unggul kalau mampu memproses anak-anak Indonesia (siapapun dia) menjadi manusia-manusia yang siap melanjutkan pembangunan bangsa. Atau manusia manusia yang mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran sebagaimana yang ingin dicapai oleh Bangsa dan Negara.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran unggul hendaknya menggunakan strategi pembelajaran yang paling optimal sesuai dengan karakteristik kondisional yang tersedia untuk pembelajaran itu. Jadi keunggulan dalam suatu pembelajaran dilihat dari ketepatan strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi yang ada. Keunggulan suatu sekolah mestinya harus dilihat dari proses pembelajarannya karena pembelajaran yang unggul kebanyakan dilaksanakan untuk kegiatan belajar para siswa yang berbakat unggul dan mempunyai kecerdasan tinggi, maka pembelajaran itu sendiri harus memiliki keunggulan-keunggulan yang membuat siswa betah dan nikmat belajar.
Disamping suatu sekolah dimasuki anak-anak yang unggul, tetapi karena sekolah tersebut (sekolah unggulan) mampu mengolah anak-anak untuk dijadikan pribadi-pribadi yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan karakteristik individualnya.
Pembelajaran unggul dapat dipastikan biaya pengelolaanya mahal. Karena pembelajaran disebut unggul apabila mampu memberikan pelayanan yang sangat baik kepada setiap siswanya. Sekolah unggulan dalam penyelenggaraan pembelajaran unggul hendaknya memiliki sarana dan prasarana yang lebih dari cukup daripada kelas biasanya. Secara sederhana pembelajaran unggul itu membutuhkan biaya pengelolan yang cukup besar, sarana dan prasarana serta fasilitas yang mendukung baik secara material dan non material tinggi. Kelengkapan sumber-sumber belajar, media pembelajaran, tersedianya pembelajaran guru kelas unggulan dengan kriteria-kriteria yang sudah ditentukan dan kesadaran orang tua pun ikut menentukan ukuran keberhasilan untuk mencapai tujuan pembelajaran unggul. Adapun pembelajaran unggul menurut konsep keunggulan taman siswa adalah pembelajaran yang memproduksi lulusanya menjadi manusia berkualitas unggul; yaitu para lulusan yang mampu dan sanggup menguasai pengetahuan, ilmu dan teknologi, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (IMTAQ), serta berbudi pekerti luhur (akhlak) yang menjadi indikatornya. Dengan pembelajaran unggul prestasi puncak dapat dicapai para siswanya dengan cara mengembangkan kemampuan siswa dan merubah kondisi-kondisi pembelajaran dengan
(1) kurikulum yang ketat
(2) guru yang kompeten
(3) adanyaciri-ciri keefektifan
(4) esting untuk membuktikan bahwa pembelajaran telah mencapai sesuatu
(5) dukungan masyarakat dan keterlibatan orang tua
(6) pembiayaan yang memadai
(7) disiplin yang ketat
(8) keterikatan pada nilai-nilai tradisional.
Delapan kondisi ini tentu saja bersifat arbitrer, karena itu masih dapat ditambah dan dikurangi.

3. Kelas Unggulan
Kelas unggulan adalah sejumlah siswa yang karena prestasinya menonjol
dikelompokan dalam satu kelas khusus. Sistem pelaksanaan pembelajaranya dengan menerapkan kurikulum plus ditambah pendalaman materi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS dan beberapa ekstra kurikuler untuk mengembangkan minat, bakat dan kemampuan para siswa. Pembelajaran unggul dapat memudahkan dalam membina dan mengembangkan kecerdasan, keterampilan, kemampuan, bakat, minat, sikap dan perilaku siswa agar siswa memiliki indikator prestasi yang tinggi dan unggul sesuai dengan potensinya.
Pembelajaran unggul dikelas unggulan bertujuan :
(1) mempersiapkan siswa yang cerdas, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki budi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan serta sehat jasmani dan rohani.
(2) memberi kesempatan kepada siswa yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata normal untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki siswa.
(3) memberikan kesempatan kepada siswa agar lebih cepat mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan sesuai dengan perkembangan pembangunan.
(4) memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi baik.
(5) mempersiapkan lulusan kelas unggulan menjadi siswa yang unggul sesuai dengan perkembangan mental siswa.

4. Siswa Kelas Unggulan
Menjadi siswa yang dapat belajar dikelas unggulan merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan karena dipandang bahwa siswa kelas unggulan merupakan siswa yang mempunyai prestasi unggul dikelasnya. Anak yang berprestasi unggul sering d ikaitkan dengan anak yang berbakat.
Ada beberapa kecenderungan atau ciri-ciri umum yang sama pada anak bebakat intelektual. Ciri tersebut merupakan karakteristik anak berbakat intelektual yang menyatakan bahwa anak berbakat mempunyai keunggulan atau menonjol dalam hal: (1) kesiagaan mental (2) kemampuan pengamatan/observasi (3) keinginan untuk belajar (4) daya konsentrasi (5) daya nalar (6) kemampuan membaca (7) ungkapan verbal (8) kemampuan menulis (9) kemampuan mengajukan pertanyaan yang baik (10) menunjukan minat yang luas (11) memiliki ambisi yang kuat untuk mencapai prestasi yang baik (12) mandiri dalam memberikan pertimbangan (13) dapat memberi jawaban tepat dan langsung kesasaran (14) mempunjyai rasa humor tinggi (15) melibatkan diri sepenuhnya serta ulet menghadapi tugas yang diminati.
Melihat pada daftar panjang yang mengungkapkan karakteristik /ciri-ciri anak berbakat seolah-olah mereka hanya memiliki sifat-sifat yang positif saja. Namun demikian untuk dapat memasuki kelas unggulan seorang siswa harus lulus seleksi yang diadakan oleh sekolah. Mereka juga dinyatakan dapat memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan untuk lolos ke kelas unggulan.
Adapun syarat yang harus dipenuhi oleh siswa-siswa kelas unggulan adalah sebagai berikut :
1. Merupakan siswa berprestasi dikelasnya berdasarkan jumlah nilai raport.
2. Lulus tes kemampuan akademik, psikologi dan kesehatan sesuai dengan alat seleksi yang terstandar.
3. Memiliki bakat dan minat serta prestasi yang unggul dikelasnya.
4. Mendapatkan ijin tertulis dari orang tua siswa yang isinya juga harus patuh mengikuti tata tertib penyelenggaraan kelas unggulan dengan disiplin yang ketat.

5. Guru Kelas Unggulan
Anak berbakat adalah “anak luar biasa” yang memerlukan guru khusus yang sesuai untuk mengajar mereka. Sesuai dengan pandangan yang melatar belakangi perkembangan pendidikan untuk anak berbakat itu, yaitu pandangan “studentcentered education” dalam menyiapkan guru-guru untuk anak berbakat itu orang harus bertolak dari kondisi dan ciri-ciri khas anak berbakat. Seperti telah umum diketahui pendidikan (tegasnya pengajaran) adalah proses yang melibatkan anak didik sebagai bahan baku, masukan lingkungan dan masukan instrumental guna mencapai tujuan yang diinginkan. Tentu saja, dalam proses ini semua yang terlibat itu harus disesuaikan dengan kebutuhan anak berbakat.    Tujuan harus disesuaikan dengan kebutuhan mereka, dalam proses pembelajaran gurulah yang merupakan masukan terpenting yang disebut sebagai dalang dalam proses tersebut. Untuk itu sangat wajar jika dipersiapkan guru secara khusus untuk anak yang berbakat unggul.
Guru kelas unggulan ialah guru kelas dengan ijazah strata 1, yang memandu bidang studi khusus atau mata pelajaran tertentu. Menurut Depdikbud Dirjen Dikdasmen (1996:5) yang dimaksud tenaga pengajar atau guru kelas unggulan ini diambil dari sekolah inti atau sekolah imbas diwilayah gugus sekolahnya melalui seleksi. Dengan demikian diharapkan guru kelas yang mengajar dikelas unggulan mempunyai kualifikasi dan dedikasi yang tinggi untuk mendukung pembelajaran kelas unggulan tersebut. Disamping wali kelas, ada guru bimbingan konseling yang diberi tugas sebagai guru bimbingan dan penyuluhan. Guru tersebut mempunyai fungsi untuk membimbing keberbakatan anak berbakat. Fungsi dari konseling keberbakatan adalah :
  1. membantu perkembangan pribadi anak berbakat dan membantu mengatasi kendala-kendala emosional dan kendala lingkungan,
  2. membantu memaksimalkan kemajuan belajarnya dan penempatanya pada kelompok, serta kemudian menempuh karir professional sesuai bakat dan minat.
Adapun beberapa kriteria sebagai seorang guru yang mengajar dikelas unggulan adalah sebagai berikut :
  1. Adalah guru yang profesional dengan memiliki kompetensi-kompetensi yang tinggi dalam menguasai kurikulum, materi pembelajaran, metode, strategi, dan pendekatan pembelajaran dengan kualitas yang tinggi.
  2. Berprestasi, menguasai tekhnik-tekhnik evaluasi pembelajaran, menguasai strategi pembelajaran yang unggul.
  3. Memiliki disiplin dan dedikasi yang tinggi, setia terhadap tugas, inovatif dan kreatif dalam mendidik, mengasuh, membimbing kepada para siswa yang memiliki bakat dan potensi yang unggul.
  4. Sehat jasmani dan rohani, energik, berbenampilan, berbudipekerti luhur, dan senior dalam jenjang pangkat ataupun pengalamanya.
  5. Memiliki kelebihan khusus dibanding guru lainya baik dalam bidang keterampilan, dalam mengampu suatu mata pelajaran khusus, maupun dalam membimbing siswa pada materi-materi ekstra kurikuler.
Anak berbakat unggul biasanya memiliki karakteristik dan perangai yang berbeda dari anak kebanyakan. Hal ini bermula dari perbedaan perkembangan dari kematangan emosi dan daya kritis anak-anak berbakat unggul dibanding anak-anak pada umumnya. Sehingga para guru perlu menyadari pentingnya pendidikan khusus bagi anak berbakat, baik ditinjau dari segi azasi individu, sebagai kemungkinan untuk mewujudkan bakat anak sepenuhnya, untuk mencegah rasa bosan anak, dan memang merupakan tujuan sekolah untuk mengembangkan bakat anak secara optimal,maupun ditinjau dari segi aspek manfaat bagi negara mengingat anak berbakat dapat memberikan sumbangan besar terhadap kesejahteraan bangsa (Munandar, 1982:50). Oleh karena itu diperlukan kualifikasi tertentu untuk menjadi guru kelas unggulan.
Dalam memilih guru, yang esensial adalah:
(a)memiliki kemampuan akademik, (b)berminat kuat pada salah satu bidang akademik atau bidang kreatif, (c)fleksibel dalam waktu, langkah, bahan , pola pengajaran, dan sebagainya, (d)senang humor dan, (e)seorang individu yang kuat ,
Karakteristik yang harus dimiliki guru anak berbakat dalam tiga kelompok yakni philosopical, personal dan profesional.
Karakteristik philosopical sangat penting karena hal itu menyangkut cara pandang guru terhadap pendidikan dan dampaknya terhadap pendekatan yang akan digunakan dalam mengajar, juga pandanganya terhadap anak berbakat.
Karakteristik personal mencakup sejumlah sifat seperti : percaya diri, memiliki rasa humor, memiliki motivasi, berprestasi, fleksibel dan meminati berbagai bidang. Sedangkan karakteristik profesional guru kelas unggulan meliputi kemampuan untuk menggunakan keterampilan dinamika kelompok, advance techniques, dan strategistrategi dalam menyampaikan materi, menciptakan suasana yang kondusif untuk berlatih dan menemukan (inquiry training) serta menguasai pengetahuan dan teknologi modern.

6. Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Unggulan
Pola pelaksanaan pembelajaran unggul dikelas unggulan adalah dengan kurikulum yang berlaku secara nasional, dengan sarana dan bahan belajar yang lengkap, metode belajar mengajar yang variatif, pengelolaan kelasnya yang maksimal, tata tertib dan disiplin yang tinggi, ragam kegiatan belajar dengan kurikulum plus dan ada penambahan waktu belajar di sekolah. Agar pelaksanaan pembelajaran kelas unggulan benar-benar mampu memperlihatkan nilai plus atau lebih daripada kelas-kelas lain yang diselenggarakan secara konvensional, perlu ada persyaratan tempat kelas unggulan yang meliputi:
(1)Kelas unggulan harus memiliki sarana dan prasarana yang relatif lebih lengkap
dibanding kelas yang lain/kelas biasa.
(2) sekolah unggulan mudah dijangkau oleh para siswa, dengan letak yang strategis dan dekat dengan kantor Cabang Dinas Pendidikan agar mudah memonitor dan mensupervisi kegiatan pelaksanaan pembelajaran kelas unggulan.
Dalam proses pembelajaran mengajar adalah suatu perbuatan yang kompleks. Disebut kompleks karena dituntut adanya kemampuan personal dan sosio cultural secara terpadu dalam proses belajar mengajar. Dikatakan kompleks juga karena dituntut adanya integrasi penguasaan materi dan metode, teori dan praktek dalam interaksi siswa, yang terakhir dikatakan kompleks karena mengandung unsur-unsur seni, ilmu, teknologi, pilihan nilai, dan keterampilan dalam proses pembelajaran. Tugas mengajar guru menjadi tiga tahap yang bersifat suksesif. Masing-masing tahap tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tahap sebelum pengajaran
Dalam tahap ini guru harus menyusun: program tahunan, program satuan pelajaran, dan perencanaan program mengajar. Dalam merencanakan program tersebut perlu dipertimbangkan aspek-aspek yang berkaitan dengan :
a. Bekal bawaan yang ada pada siswa.
b. Perumusan tujuan pelajaran.
c. Pemilihan metode.
d. Pemilihan pengalaman-pengalaman belajar.
e. Pemilihan bahan pelajaran, peralatan dan fasilitas belajar.
f. Mempertimbangkan karakteristik siswa.
g. Mempertimbangkan cara membuka pelajaran, pengembanganya dan menutup pelajaran.
h. Mempertimbangkan peranan siswa dan pola pengelompokan.
i. Mempertimbangkan prinsip-prinsip belajar, antara lain: pemberian penguatan, motivasi, mata rantai kognitif, pokok-pokok yang akan dikembangkan, penentuan model, transfer, keterlibatan aktif siswa dan pengulangan.
2. Tahap Pengajaran
Dalam tahap ini berlangsung interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa group atau siswa secara individual. Rentangan interaksi ini berada pada dua kutub yang ekstrem, yakni suatau perbuatan yang berpusat pada guru dan kegiatan yang berpusat pada siswa. Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam tahap pengajaran adalah:
  • Pengelolaan dan pengendalian kelas.
  • Penyampaian informasi, keterampilan-keterampilan konsep dan sebagainya.
  • Penggunaan tingkah laku verbal, seperti: keterampilan bertanya, demonstrasi dan penggunaan model.
  • Penggunaan tingkah laku non verbal seperti gerak pindah guru.
  • Cara mendapatkan balikan.
  • Mempertimbangkan prinsip-prinsip psikologi antara lain: motivasi, pengulangan, pemberian penguatan, balikan kognitif, pokok-pokok yang akan dikembangkan, mata rantai kognitif, transfer dan keterlibatan aktif siswa.
  • Mendiagnosa kesulitan belajar.
  • Menyajikan kegiatan sehubungan dengan perbedaaan individual.
  • Mengevaluasi kegiatan interaksi.
3. Tahap Sesudah Pengajaran
Tahap ini merupakan kegiatan atau perbuatan setelah pertemuan tatap muka dengan siswa. Beberapa perbuatan guru yang nampak pada tahap sesudah mengajar antara lain:
a. Menilai pekerjaan siswa.
b. Membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya.
c. Menilai kembali proses belajar mengajar yang telah berlangsung.
Ketiga tahap pengajaran tersebut harus mencerminkan hasil belajar siswa yang berkaitan dengan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Adapun proses pembelajaran atau proses belajar-mengajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik. Yaitu perubahan tingkah laku baik pengetahuan, sikapnya dan keterampilanya.
Untuk menghasilkan siswa yang unggul maka proses pembelajaran di kelas unggulan diupayakan memiliki keunggulan dari kelas biasa. Untuk itu dalam proses pembelajaran harus diperhatikan komponen-komkponen yang mempengaruhinya. Komponen yang mempengaruhi dalam proses pembelajaran adalah: kurikulum, materi, bahan atau sarana pembelajaran, metode dan penilaian.
Untuk kelas unggulan dari setiap komponenya harus memiliki keunggulan dari kelas biasa, karena dari seluruh komponen tersebut diharapkan dapat menunjang siswa untuk lebih aktif belajar sehingga dapat mencapai hasil yang optimal. Komponen-komponen tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

1. kurikulum
kurikulum yang berlaku sacara nasional adalah merupakan program minimal. Oleh karena itu untuk kelas unggulan harus menambah kurikulum/kurikulum plus. Untuk itu dapat digunakan kurikulum berdiferensiasi pada kelas unggulan. Dari hasil seminar Nasional “ alternative program pendidikan anak berbakat” dalam Munandar (1985:120) menyebutkan bahwa dalam pengembangan kurikulum anak berbakat harus ditempuh cara-cara berikut:
  1.  Pengembangan bahan pelajaran.
  2.  Mengembangkan strategi belajar mengajar.
  3. Menyusun sistem evaluasi yang sesuai.
  4. Membuat program bimbingan dan penyuluhan yang efektif bagi anak-anak berbakat.
  5. Pengembangan sistem administrasi dan supervisi pendidikan yang sejalan dengan strategi belajar mengajar dans sistem evaluasi serta BP yang dikembangkan.
  6. Peningkatan kemampuan tenaga pendidikan /guru yang relevan dalam melaksanakan program mengajar.
  7. Mewujudkan lingkungan belajar/sekolah yang dapat membantu pengembangan anak berbakat.
  8. Melengkapi sarana, fasilitas pendidikan yang menunjang terwujudnya tujuan program tersebut.
  9. faktor-faktor lainya yang menunjang terwujudnya program anak berbakat ini perlu dikembangkan secara nyata.
2. Materi
Artinya bahwa setiap materi yang ada dalam kurikulum harus diperdalam, diperkaya dan diperluas. Sehubungan dengan hal tersebut maka konsekuensinya akan ada tambahan waktu belajar. Selain itu dengan bertambahnya alokasi waktu yang ada memberikan peluang kepada siswa kelas unggulan untuk mengembangkan bakat, minat,dan keterampilan seoptimal mungkin.
3. Bahan atau sarana pembelajaran
Mengenai bahan dan sarana pembelajaran, maka perlu melengkapi buku-buku sumber baik untuk pegangan siswa maupun guru. Buku-buku penunjang yang dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar juga perlu disediakan. Begitu pula mengenai perabot, media pembelajaran dan sarana pembelajaran yang lain harus lebih memadai baik dari segi jumlah dan kualitasnya.
4. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran, strategi, model-model belajar, tehnik dan pendekatan-pendekatan diharapkan diterapkan dengan tepat untuk mengaktifkan siswa kelas unggulan agar merangsang siswa berfikir untuk mengembangkan variasi pembelajaran yang cukup beragam. Dalam melaksanakan pembelajaran unggul dikelas unggulan guru hendaknya memberikan perhatian khusus terhadap masing-masing individu. Siswa harus merata sehingga dapat memberikan layanan yang sesuai, baik belajar secara individual, kelompok atau klasikal. Tugas-tugas pekerjaan rumah harus lebih disesuaikan dengan kehendak siswa untuk meningkatkan prestasinya. Umpan balikpun perlu seringkali dilakukan.
5. Evaluasi
Evaluasi hendaknya benar-benar dapat mendorong siswa untuk belajar. Baik dari segi alat evaluasi, proses evaluasi maupun tindak lanjut evaluasinya. Soal-soal uraian lebih sering digunakan dan diutamakan untuk mengembangkan nalar siswa. Setiap hasil penilaian harus diberikan umpan balik dan tindak lanjut. Pengelolaan kelas pada kelas unggulan sama dengan pengelolaan kelas biasa. Baik mengenai pengaturan jadwal pelajaran, tempat duduk, posisi meja kursi siswa dan guru, letak papan tulis maupun pengaturan gambar dan alat peraga dikelas yang menunjang proses pembelajaran unggul dan menjadi sumber belajar dikelas.
Disiplin dan tata tertib pada kelas unggulan sangat diutamakan dan mendapat penekanan yang tinggi, mengingat kelas unggulan adalah kelas khusus yang memiliki nilai jelas. Yang penting setinggi apapun intensitas pembelajaran, siswa tetap merasa betah belajar, nikmat, merasa nyaman dan aman dalam belajar.
Ragam kegiatan pembelajaran dikelas unggulan meliputi program intra kurikuler yang telah disusun dalam kurikulum yang berlaku secara nasional. Untuk kelas unggulan kegiatan intra kurikuler diberi pendalaman dan pengembangan materi sesuai bakat potensi anak, karena kelas unggulan menggunakan kurikulum plus dan penambahan waktu belajar disekolah. Untuk kegiatan ekstra kurikuler harus diikuti siswa kelas unggulan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya. Mengingat kelas unggulan adalah kelas khusus untuk menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas, maka dalam pelaksanaanya perlu didukung oleh adanya fasilitas seperti:

  1. Buku penunjang atau pelengkap yang berupa modul yang dapat dipelajari oleh siswa secara mandiri untuk mendukung kegiatan pembelajaran.
  2.   Laboratorium untuk praktek siswa dalam mempraktekan dan memperdalam pengetahuanya.
  3. Perpustakaan yang menyediakan sumber belajar lengkap dan mendukung kegiatan pembelajaran unggul.
Penilaian hasil belajar siswa kelas unggulan sama dengan kelas biasa hanya kelas unggulan para siswanya berprestasi tinggi sehingga terdapat perbedaaan dalam hal tertentu baik yang terkait dengan alat penilaian, proses penilaian, maupun tindak lanjut dari hasil penilaian. Didalam aktifitas penilaian hendaknya memperhatikah hal-hal sebagai berikut:

  1. Alat penilaian dikelas unggulan mengutamakan tes uraian dalam ulangan harian dengan penyusunan soal memiliki tingkat kesukaran lebih tinggi.
  2. Standar nilai keberhasilan dalam setiap mata pelajaran siswa diharuskan mendapat nilai minimal 7 jika dan yang belum mencapai dapat mengikuti remidi sebanyak dua kali. Bagi yang sudah maka dapat mengikuti program pengayaan.
  3. Syarat-syarat kenaikan kelas di kelas unggulan bagi siswanya jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
  • Memiliki nilai rata-rata 8 untuk semua mata pelajaran.
  • Penilaian sikap dan tingkah laku siswa kelas unggulan mendapat perhatian khusus dan harus mempunyai kelebihan dari segi kejujuran, sopan santun, sosialisasi, kerajinan, kerapian, budi pekerti dan kemandirian.
  • Mempertimbangkan keaktifan dalam mengikuti kegiatan ekstra kurikuler yang ditetapkan sekolah dan dalam kegiatan sosial dilingkungan masyarakat.
7. Pembelajaran Matematika
Matematika merupakan ilmu mengenai struktur dan hubungan-hubungan dari simbul-simbul yang diperlukan. Simbul-simbul itu penting untuk memanipulasi aturan-aturan dengan operasi yang ditetapkan. Dari simbulasasi itulah dapat menjamin adanya komunikasi yang mampu memberikan keterangan untuk membentuk suatu konsep baru. Konsep baru terbentuk karena adanya pemahaman terhadap konsep sebelumnya, sehingga matematika itu konsepnya tersusun secara herarkis. Simbulisasi itu barulah berarti bila suatu simbul itu dilandasi suatu ide. Jadi dapat dikatakan bahwa matematika berkenaan dengan ide-ide atau konsep-konsep abstrak yang tersusun secara herarkis dan penalaranya deduktif (Hudojo, 1988:3).
Proses pembelajaran diasumsikan sebagai suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Dalam pembelajaran matematika, berpikir matematika merupakan kegiatan mental yang dalam prosesnya selalu menggunakan abstraksi dan generalisasi. Oleh karena itu bagi anak-anak yang mempunyai keberbakatan intelektual pelajaran matematika dipandang sebagai pelajaran yang menantang dan menarik untuk dikuasai (From matematic Teacher : (A.S)